Oleh: passya | Juli 3, 2007

Aku titip orang tua Kita, Bang!

Aku terdiam membaca surat di tanganku. Ada amarah yang tersimpan di setiap kata-katanya. Amarah dari seorang adik terhadap kehidupan. Yang ditumpahkan kepadaku, kakak yang diyakininya menjadi pangkal penyebab.

“Bang, Aku sudah capek mengurus Ayah sama Mamak. Aku minta kita bergantian. Biar sama-sama merasakan, walau selama ini Abang selalu mencukupi Kami dengan biaya hidup.
Baca Lanjutannya…

Iklan
Oleh: passya | Juli 1, 2007

Tuhan, matikanlah anjing-anjing itu

“Mak, apa do’a gelandangan seperti kita didengar Tuhan?”
“Pasti Nak. Makanya kita sampai sekarang tetap bisa makan”
“Iya ya Mak. Coba kalau kita tidak…”
“Udah..cepat tidur. Biar besok bangun lebih pagi. Ntar keduluan anjing. Jangan lupa berdo’a dulu”

Wanita itu menata kardus untuk alas tidur anaknya. Setelah selesai, dia membaringkan kepala anaknya di atas sebuah bungkusan plastik. Sebagai bantal.
Baca Lanjutannya…

Oleh: passya | Juli 1, 2007

Wak Guru

Aku membonceng Wak Guru dengan sepeda menuju kampung tetangga. Jalanan sangat gelap. Harus perlahan karena hanya mengandalkan sinar lampu dari dinamo yang diputar roda depan. Sebenarnya undangan makan-makan ini bukan dalam kapasitas beliau sebagai Wak Guru-sebutan ulama di kampungku, melainkan sebagai Tetua adat.

Begitu sampai, Wak Guru disambut tuan rumah. Ketika makanan mulai disajikan, mataku tertumbuk dengan gumpalan daging yang disodorkan ke depan Wak Guru. Daging babi, mulutku berucap tanpa suara. Aku adalah muallaf dan tahu persis bentuk dan aroma masakan khas daging babi. Aku berpikir mungkin tuan rumah tidak tahu.

Baca Lanjutannya…

“Ambil positifnya aja Kak, memang Papa sangat menyayangi Aku, mungkin dia tidak ingin anaknya nanti disia-siakan…” Annisa mencoba menetralisir suasana. Aku menatap wajah ayu itu.

“Yang mau menyia-nyiakan kamu itu siapa Nisa? Aku gak habis pikir, apa karena mereka menyayangimu lantas orang lain tidak boleh menyayangimu juga? Kalian boleh punya masa lalu yang tidak mengenakkan, kalian mungkin pernah dikecewakan orang lain, tapi apa selamanya begitu? Apa semuanya begitu? Kok jadi Aku yang menanggung perbuatan mereka?”

Baca Lanjutannya…

Oleh: passya | Juni 23, 2007

Pelacur Kehidupan

Aku menyuapi pria itu dengan sabar. Matanya menatap tajam ke wajahku. Masih setajam dulu. Aku mengerti maksudnya.

“Sudahlah mas, semestinya kita bersyukur masih ada yang mau melampiaskan nafsunya kepadaku..” Aku menyisir rambutnya dengan kelima jariku.

Lelaki itu membuang pandangan tanpa mengalihkan wajah. Dia tidak mampu menggerakkan kepalanya. Padahal dulu dia begitu gagah. Pelanggan paling gagah. Dengan kegagahannya pula dia melepaskanku dari Mami. Tidak sampai di situ. Dia pun menentang orangtuanya dengan menikahiku. Orangtuanya murka. Orangtuanya tidak salah. Siapa pula yang mau bermenantukan wanita mantan pelacur?

Baca Lanjutannya…

Oleh: passya | Juni 16, 2007

Rahasia Kakakku

Wanita muda itu tiba-tiba saja sudah ada di pintu kamarku. Wajahnya tidak seperti biasa. Kusut. Bingung. Dia melemparkan amplop coklat ke tubuhku sebelum Aku bangun dari kasur. “Lihat…” katanya.

Aku membuka amplop. Ada Testpack yang masih sedikit basah. Positif. Alisku melengkung sambil melihat wanita muda itu, kakak iparku. “Mas Arif pasti senang…” Aku bergumam menyebut nama kakakku. Aku lalu membuka kertas dengan kop surat sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta. Bertanggal setahun lalu. Sebuah resume uji sperma atas nama Arif, kakakku. Negatif. Aku pucat dan berkeringat.

::::::

Kategori