Oleh: passya | Juli 3, 2007

Aku titip orang tua Kita, Bang!

Aku terdiam membaca surat di tanganku. Ada amarah yang tersimpan di setiap kata-katanya. Amarah dari seorang adik terhadap kehidupan. Yang ditumpahkan kepadaku, kakak yang diyakininya menjadi pangkal penyebab.

“Bang, Aku sudah capek mengurus Ayah sama Mamak. Aku minta kita bergantian. Biar sama-sama merasakan, walau selama ini Abang selalu mencukupi Kami dengan biaya hidup.
Aku sampai kehilangan masa mudaku hanya untuk mengurus mereka. Aku sampai tidak memikirkan masa depanku sendiri demi mereka. Aku pun rela Kau maki-maki kalau salah satu dari mereka kurang sehat. Aku memang tak berguna. Seperti yang sering Kau katakan. Ayah sama Mamak pun sangat membanggakan Kau Bang, makanya prestasimu selalu diceritakan sama orang-orang. Namaku tak ada disebut. Memang Aku tak punya prestasi. Tapi tak pernah diceritakan ke orang kalau Akulah yang selama ini mengurus mereka. Aku tak ada Bang.
Kau pun sama dengan mereka kan Bang? Makanya Kau sudah mulai meributkan kebun sawit Kita. Tepatnya kebun sawitmu. Kata Ayah, Kau yang lebih berhak mengatur pengelolaan kebun itu. Karena Kau anak pertama. Tenanglah Bang, Aku tidak berniat memiliki kebun itu. Justru Aku ingin memiliki kebun sawit dari hasil keringatku sendiri.
Makanya Aku ingin berangkat ke Malaysia jadi TKI. Cuma setahun untuk mencari modal. Jadi intinya, Aku ingin menitipkan Ayah dan Mamak sama Abang. Mau kan Bang? Setahun gak lama kok dibanding Abang yang bertahun-tahun meninggalkan mereka dan pulang hanya pas lebaran saja. Terserah, Abang yang tinggal di sini atau Ayah Mamak yang Kau bawa ke Jakarta. Pasporku sudah jadi dan rencananya minggu depan Aku sudah berangkat.
NB: Bang, tolong Abang yang menyampaikan sama Ayah Mamak perihal keberangkatanku ini. Aku gak tega.”


Kategori