Oleh: passya | Juli 1, 2007

Wak Guru

Aku membonceng Wak Guru dengan sepeda menuju kampung tetangga. Jalanan sangat gelap. Harus perlahan karena hanya mengandalkan sinar lampu dari dinamo yang diputar roda depan. Sebenarnya undangan makan-makan ini bukan dalam kapasitas beliau sebagai Wak Guru-sebutan ulama di kampungku, melainkan sebagai Tetua adat.

Begitu sampai, Wak Guru disambut tuan rumah. Ketika makanan mulai disajikan, mataku tertumbuk dengan gumpalan daging yang disodorkan ke depan Wak Guru. Daging babi, mulutku berucap tanpa suara. Aku adalah muallaf dan tahu persis bentuk dan aroma masakan khas daging babi. Aku berpikir mungkin tuan rumah tidak tahu.

Sebelum terlanjur Wak Guru memakan daging tersebut, Aku berinisiatif berbicara dengan tuan rumah “Maaf, Kami tidak bisa….”.
“Sssstt…hargai pemberian tuan rumah…” Wak Guru memotong ucapanku. Dia juga menyuruhku duduk kembali.
“Tapi Wak…itu daging…”
“Kalau Kau tidak suka daging, makan saja ikan mas itu…” Wak Guru menyodorkan sepiring ikan mas ke hadapanku. Kulihat Wak Guru sangat lahap meyantap daging babi tersebut. Aku tak habis pikir. Aku pun makan dengan lauk ikan mas.

Di perjalanan pulang Wak Guru berzikir di boncengan. Pertanda tidak boleh diganggu. Tapi Aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
“Wak, tau gak kalau yang tadi itu daging babi?”
Setengah malas Wak Guru menjawab “Tau “
“Lho! kok Wak Guru malah memakan daging babi itu?” Aku makin heran.
“Yang memakan daging babi siapa?”
“Tadi kan Wak Guru sampai nambah dua kali…”
“Aku gak ada makan daging babi. Kau mungkin yang pengen sampai Kau bawa di kantong bajumu itu”
Aku sungguh kaget ketika kurogoh saku bajuku penuh dengan potongan daging berbumbu. Wak Guru terkekeh-kekeh di boncengan belakang. “Bonar…Bonar…” Wak Guru berujar setelah tawanya reda “Kau harus lebih banyak belajar rahasia dunia…rahasia cara menghargai perbedaan dengan tetap berbeda”
Aku masih belum mengerti. Wak Guru kembali berzikir.

:::::


Kategori