“Ambil positifnya aja Kak, memang Papa sangat menyayangi Aku, mungkin dia tidak ingin anaknya nanti disia-siakan…” Annisa mencoba menetralisir suasana. Aku menatap wajah ayu itu.
“Yang mau menyia-nyiakan kamu itu siapa Nisa? Aku gak habis pikir, apa karena mereka menyayangimu lantas orang lain tidak boleh menyayangimu juga? Kalian boleh punya masa lalu yang tidak mengenakkan, kalian mungkin pernah dikecewakan orang lain, tapi apa selamanya begitu? Apa semuanya begitu? Kok jadi Aku yang menanggung perbuatan mereka?”
“Butuh waktu mungkin Kak, Papa Mama mungkin ingin melihat kesungguhan kakak. Seperti….”
“Nisa…” Aku cepat memotong. “Kesungguhan apa lagi? Apa kesungguhanku ingin cepat-cepat menikahimu dianggap main-main? Apa Aku harus menunggu sambil mebuang-buang waktu dengan dalih pembuktian sebuah kesungguhan?”
Nisa terdiam. Wajahnya tertunduk memandang kakinya. “Kak, sampai sekarang Papa Mama masih terus bertanya, kenapa Kakak memilihku. Bukankah masih banyak wanita lain yang kakinya tidak pincang seperti kakiku?”
“Nisa…pertanyaan itu tidak butuh penjelasan tapi pembuktian” Suaraku melembut. Aku tidak ingin Annisa tertekan dengan kata-kataku. “Aku bukan orang yang bodoh mau menghabiskan waktu dengan sebuah kesia-siaan. Dan Aku yakin, memilih dan menikahimu bukanlah sebuah kesia-siaan. Kamu percaya Nisa?”
Wajah Annisa mendongak. Senyumnya terkembang. Ada bahagia terpancar dari matanya. Mata yang indah, persis seperti mata ibuku. Ibu yang marah ketika kuberitahu Aku mencintai seorang gadis yang kakinya kecil sebelah. Ibu yang hingga kini tidak mau menerima telepon dari anak yang selalu dijadikan contoh buat adik-adikku, ketika terakhir Aku mengatakan ingin melamar Annisa, gadis pilihan hatiku.
:::::