Oleh: passya | Juni 23, 2007

Pelacur Kehidupan

Aku menyuapi pria itu dengan sabar. Matanya menatap tajam ke wajahku. Masih setajam dulu. Aku mengerti maksudnya.

“Sudahlah mas, semestinya kita bersyukur masih ada yang mau melampiaskan nafsunya kepadaku..” Aku menyisir rambutnya dengan kelima jariku.

Lelaki itu membuang pandangan tanpa mengalihkan wajah. Dia tidak mampu menggerakkan kepalanya. Padahal dulu dia begitu gagah. Pelanggan paling gagah. Dengan kegagahannya pula dia melepaskanku dari Mami. Tidak sampai di situ. Dia pun menentang orangtuanya dengan menikahiku. Orangtuanya murka. Orangtuanya tidak salah. Siapa pula yang mau bermenantukan wanita mantan pelacur?

Sekarang, anak kami sudah lima tahun. Usaha konveksi Mas Hadi, suamiku, bangkrut ditipu pengusaha dari Timur Tengah. Tidak lama, Mas Hadi tiba-tiba lumpuh layu. Kata dokter terkena stroke. Kata orang kena guna-guna saingan bisnis. Sebagian mengatakan kualat sama orangtua. Semua harta ludes untuk biaya berobat. Rumah pun tidak punya.

“Mas, Pak Joko teman bisnismu dulu, memintaku rutin menemaninya setiap hari Kamis dan Sabtu. Dia janji akan memberiku uang yang banyak…”

Mata lelaki itu tetap menatap ke sudut ruangan. Perlahan bola matanya mengeluarkan air.

Aku mencium keningnya. Aku berbisik di telinganya “Aku sangat mencintaimu Mas…sampai kapan pun..”. Air mata lelaki itu bertambah deras.

:::::


Kategori